Foto: Edi Danggur (ist).

Oleh: Edi Danggur

Ada dua prasyarat hidup yang bermakna yaitu integritas dan pengetahuan. Keduanya harus ada dalam diri seseorang secara berimbang.

Seorang sastawan Inggeris terkenal, Dr. Samuel Johnson, mengatakan: “Integrity without knowledge is weak and useless, and knowledge without integrity is dangerous and dreadful.”

Integritas tanpa pengetahuan adalah sebuah kelemahan dan tidak berguna, dan pengetahuan tanpa integritas (bermoral dan jujur) itu sangat berbahaya dan mengerikan atau menakutkan.

Loyalitas atau kesetiaan tanpa dukungan ilmu itu tak berguna, sebaliknya ilmu tanpa kesetiaan berbahaya dan mengerikan. Tidak hanya merugikan diri sendiri tetapi juga orang lain.

Seberapa pun banyaknya pengetahuan dan seberapa pun tingginya gelar akademik seseorang, tanpa dukungan moralitas, integritas dan kejujuran adalah kesia-siaan.

Lebih mengerikan dan bahkan sangat menakutkan jika seseorang mempunyai gelar akademik tinggi dan ilmu pengetahuan yang banyak, tetapi integritas, moral dan kejujuran sangat rendah.

Kita tidak boleh menghakimi seseorang hanya berdasarkan tingkat pendidikan atau gelar akademiknya, tapi berdasarkan kemampuan, kecerdasan, integritas, kejujuran dan moralitasnya.

Sebab pendidikan atau gelar akademik tinggi tidak selalu mencerminkan kecerdasan dan integritas seseorang. Prof Feynman mengatakan: “Never confuse education with intelligence, you can have a PhD and still be an idiot”.

Beliau mengingatkan, jangan pernah mengira bahwa pendidikan sama dengan kecerdasan, kamu bisa memiliki gelar PhD (doktor) tetapi sebenarnya orang itu masih menjadi orang bodoh.

Sebab pendidikan tidak sama dengan kecerdasan dan memiliki gelar akademik tinggi tidak berarti orang itu pintar.

Pendidikan formal seorang tidak serta-merta orang itu mempunyai tingkat kecerdasan yang tinggi atau mampunyai kemampuan berpikir kritis.

Prof Feynman mengajak semua orang yang berpendidikan agar senantiasa mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kecerdasan, tidak hanya fokus pada pendidikan formal dengan gelar akademik tinggi.

Kita juga tidak boleh menilai seseorang berdasarkan tingkat pendidikan formalnya atau tinggi rendah gelar akademikinya, tetapi berdasarkan kemampuan dan kecerdasannya, moralitas dan integritasnya.

Kaum cerdik pandai di zaman Romawi sejak lama menggambarkan hidup yang bermakna dalam dua frasa ini: “Virtus sine scientia nihil est” (Kejujuran tanpa pengetahuan tidak ada artinya) dan “Scientia sine conscientia nihil est” (Pengetahuan tanpa kesadaran tidak ada artinya).

Penulis adalah seorang advokat, tinggal di Jakarta