Dinas Pertanian Manggarai Uji Coba Dua Unit Combine Harvester di Lingko Lanar Cancar

Foto: ist.

Ruteng, Pijarflores.net – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Manggarai menguji coba pemanfaatan alat dan mesin pertanian (alsintan) jenis combine harvester di areal persawahan Lingko Lanar, Cancar, Kecamatan Ruteng, sejak 17 Mei 2026.

Uji coba tersebut dilakukan untuk membantu petani mempercepat proses panen padi sekaligus menekan biaya produksi pertanian yang selama ini mayoritas masih dilakukan secara manual.

Pantauan di lokasi menunjukkan dua unit combine harvester beroperasi di hamparan persawahan Lingko Lanar untuk membantu petani memanen padi. Kehadiran alat panen modern tersebut menarik perhatian warga. Para petani tampak antusias menyaksikan proses panen yang berlangsung lebih cepat dan efisien.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Manggarai, Ferdy Ampur, mengatakan bahwa penggunaan alsintan mulai memberikan dampak positif bagi petani. Dampak tersebut terlihat baik dari sisi efisiensi biaya maupun peningkatan hasil panen.

Menurut Ferdy, berdasarkan hasil monitoring dan testimoni petani di lapangan, penggunaan alat panen modern ini mampu menghemat biaya panen hingga 60 persen dibandingkan metode manual. Selain itu, penggunaan combine harvester juga dinilai mampu meningkatkan produktivitas hasil pertanian antara 10 hingga 15 persen.

“Kita melihat hasil panen meningkat dan biaya panen jauh lebih hemat. Ini menjadi langkah penting dalam modernisasi pertanian di Kabupaten Manggarai,” ujarnya saat memantau langsung proses panen di Lingko Lanar.

Salah seorang petani milenial di Lingko Lanar, Benediktus Bagul, mengaku sangat terbantu oleh kehadiran alat panen modern tersebut. Menurutnya, proses panen menjadi lebih cepat dan tenaga kerja yang dibutuhkan jauh lebih sedikit.

“Jika panen manual biasanya membutuhkan waktu beberapa hari, sekarang dengan alat ini pekerjaan selesai jauh lebih cepat,” kata Benediktus.

Testimoni serupa disampaikan oleh petani lainnya, Maria D. Ia menilai penggunaan combine harvester membantu mengurangi biaya panen sekaligus meminimalkan kehilangan hasil padi saat proses perontokan.

“Kami merasa sangat terbantu karena biaya panen lebih ringan dan hasil padi juga lebih bersih,” ujar Maria.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Campe Cama, Wilhelmus, berharap penggunaan alsintan terus diperluas di wilayah pertanian Kabupaten Manggarai. Hal ini diharapkan dapat memicu generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian modern.

“Jika pertanian sudah menggunakan teknologi seperti ini, anak muda tentu lebih tertarik untuk kembali bekerja di sektor pertanian,” ungkap Wilhelmus.

Berbagai testimoni petani tersebut sekaligus mematahkan anggapan sejumlah pihak yang sebelumnya menilai penggunaan alsintan mahal dan tidak efektif.

Faktanya, para petani justru merasakan manfaat nyata melalui penghematan biaya, percepatan panen, serta peningkatan hasil produksi.Meski demikian, Ferdy mengakui masih terdapat sejumlah kendala dalam penerapan alsintan di lapangan.

Kendala utama adalah ukuran petakan lahan pertanian masyarakat yang relatif sempit, sehingga memengaruhi ruang gerak dan efektivitas kerja alat.Namun, antusiasme petani terhadap penggunaan alsintan ini dinilai sangat tinggi.

Pemerintah Kabupaten Manggarai melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan berkomitmen untuk terus mendorong pemanfaatan teknologi di wilayah sentra produksi padi.

Ke depan, Dinas Pertanian juga berencana mengoptimalkan pemanfaatan alsintan secara menyeluruh. Optimalisasi ini dimulai dari tahap pengolahan lahan, penanaman, perawatan, hingga proses panen.

Langkah ini diambil untuk mendukung modernisasi pertanian yang lebih efektif, efisien, dan berkelanjutan.Modernisasi pertanian ini juga diharapkan mampu menarik minat generasi muda melalui program petani milenial yang sedang dikembangkan oleh pemerintah daerah.

Tim PF