HPN 2026: Aliansi Wartawan Manggarai Barat Sentuh Pendidikan di Pelosok Tiwu Nampar
Manggarai Barat, Pijarflores.net – Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) pada 9 Februari 2026 di Kabupaten Manggarai Barat tidak hanya diisi dengan seremoni potong tumpeng. Aliansi Wartawan Manggarai Barat (AWAMB) memilih merayakannya melalui aksi nyata dengan menyambangi sekolah dasar di wilayah terpencil untuk berbagi perlengkapan belajar bagi siswa yang membutuhkan.
Pada Rabu (11/2/2026), rombongan jurnalis menembus medan sulit menuju Desa Tiwu Nampar, Kecamatan Komodo. Dua sekolah menjadi sasaran utama kegiatan sosial ini, yakni SDK Kenari dan SDN Jati Makmur—keduanya terletak di balik perbukitan dengan akses jalan yang masih memprihatinkan.
Kehadiran para wartawan disambut antusias oleh puluhan siswa. Paket alat tulis berupa buku, pulpen, mistar, hingga penghapus diserahkan secara simbolis kepada pihak sekolah. Meski sederhana, bantuan ini merupakan bentuk kepedulian insan pers terhadap ketimpangan fasilitas pendidikan di wilayah yang belum sepenuhnya tersentuh derap pembangunan.
Ketua AWAMB, Alfonsius Andi, menegaskan bahwa aksi ini adalah refleksi sosial atas realitas pendidikan di pelosok. Ia juga menyinggung tragedi memilukan di Kabupaten Ngada baru-baru ini, di mana seorang siswa diduga mengakhiri hidup akibat kendala ekonomi dan keterbatasan alat sekolah.
“Kami berharap tragedi di Ngada tidak pernah terjadi di Manggarai Barat. Jangan sampai ada anak yang kehilangan harapan hanya karena tidak memiliki alat tulis,” tegas Andi. Menurutnya, pendidikan adalah tanggung jawab kolektif yang melibatkan pemerintah, masyarakat, dan pers sebagai penyambung lidah publik.
Kegiatan ini turut didukung oleh jajaran Polsek Komodo. Kapolsek beserta anggotanya hadir mendampingi penyerahan bantuan sebagai bentuk sinergi lintas sektor.
Apresiasi mendalam datang dari pihak sekolah. Perwakilan Guru SDK Kenari, Marselus, menyebut aksi ini sebagai hal luar biasa yang pertama kali mereka terima. Senada dengan itu, Plt Kepala SDN Jati Makmur, Abdul Karim, mengakui bantuan tersebut sangat meringankan beban siswa yang mayoritas berasal dari keluarga kurang mampu.
Namun, di balik kegembiraan itu, Abdul Karim mengungkapkan tantangan berat yang dihadapi sekolahnya. Selain kekurangan alat tulis, akses jalan sepanjang dua kilometer menuju sekolah rusak parah, krisis air bersih, hingga kerusakan fisik bangunan berupa dinding dan lantai kelas yang retak menjadi persoalan menahun.
“Jalan ke sekolah sangat memprihatinkan, itu yang paling berat bagi kami. Kami berharap ada perhatian agar akses dan kebutuhan dasar seperti air bersih bisa terpenuhi,” keluh Abdul Karim.
Mantan Kepala SDN Jati Makmur, Maximus Madun Da Sales, mengenang perjuangan panjang mendirikan sekolah ini sejak tahun 2001 secara swadaya sebelum Manggarai Barat menjadi kabupaten definitif. Kini, meski berstatus negeri, fasilitas sekolah masih jauh dari kata layak dibandingkan dengan geliat pariwisata premium di pusat Labuan Bajo.
Aksi AWAMB di Tiwu Nampar pada HPN 2026 ini pun menjadi momentum krusial untuk menyuarakan suara-suara dari pinggiran. Di tengah keterbatasan jalan rusak dan ruang kelas yang tak lagi utuh, buku-buku yang dibagikan hari itu menjadi simbol bahwa harapan bagi anak-anak pelosok Manggarai Barat harus tetap menyala.
(Andi)







